Sumpah di Atas Meja Makan
Bau kopi tubruk yang hangus menyengat hidung Aris, bercampur dengan aroma keringat dan kepulan asap kretek yang memenuhi kedai di sudut distrik perantau. Di seberang meja kayu yang lapuk, Maya duduk dengan punggung tegak, jemarinya mengetuk permukaan meja mengikuti irama detak jam dinding yang lambat. Tidak ada basa-basi. Tidak ada sapaan hangat yang biasanya menjadi perekat komunitas ini.
“Angka-angka di halaman empat puluh dua tidak sinkron, Aris,” suara Maya rendah, tajam seperti pisau bedah. “Tiga keluarga baru saja melunasi bunga, tapi di buku kas yang kamu pegang, Bapakmu justru mencatat mereka masih menunggak. Komunitas mulai mencium bau busuk.”
Preview ends here. Subscribe to continue.