Warisan di Balik Pintu Terkunci
Bau apak kayu tua dan sisa dupa murahan menyambut Aris saat ia mendorong pintu rumah yang tak lagi terkunci. Di distrik perantau ini, pintu yang terbuka adalah undangan bagi nasib buruk, namun Bapak tidak pernah seceroboh itu. Aris melangkah masuk. Ruang tamu yang biasanya rapi dengan pajangan porselen kini berantakan. Kursi rotan terbalik, dan isi laci meja kayu Bapak berserakan di lantai, seolah seseorang mencari sesuatu dengan terburu-buru. Tidak ada tanda-tanda perampokan—televisi dan barang berharga lainnya masih di tempatnya. Yang hilang hanyalah Bapak.
"Pak?" panggil Aris. Suaranya
Preview ends here. Subscribe to continue.