Pilihan yang Tak Bisa Ditunda
Li Wei masih merasakan bau minyak mesin dan garam laut menempel di bajunya saat ia menuruni tangga sempit menuju ruang bawah tanah toko obat tua milik Nenek Mei. Bau itu mengingatkannya pada koridor pengiriman pelabuhan semalam—gudang gelap tempat ia dan Nenek Mei hampir tertangkap, tempat foto dirinya kecil tercetak di dokumen imigrasi lama yang kini terasa seperti rantai di lehernya.
Ruangan pengap itu sudah penuh. Dua puluh lebih warga Chinatown duduk di bangku kayu reyot dan kardus, bahu mereka saling bersentuhan. Udara panas bercampur keringat dan asap rokok kretek murahan. Bisik-bisik berhenti seketika saat Li Wei muncul. Mata-mata itu menatapnya—sebagian penuh harap, sebagian lagi penuh tuduhan.
"Dia sudah datang," gumam seorang ibu muda sambil menggendong anaknya yang mengantuk.
Nenek Mei berdiri di ujung ruangan, tangannya bertumpu pada tongkat bambu. "Rapat dimulai. Tidak ada waktu untuk basa-basi." Suaranya pelan, tapi setiap orang mendengar.
Seorang pria paruh baya dengan kaos lusuh langsung bicara. "Li Wei, serahkan saja buku besar itu pada Chen Rong. Kita masih bisa selamat. Rumah kami, warung kami—semua tergantung rute pengiriman itu. Kalau dia marah, kita semua habis."
Beberapa kepala mengangguk cepat. Li Wei merasakan dada sesak. Semalam di gudang, ia baru tahu namanya tercatat sebagai penerus sejak lahir. Sekarang orang-orang ini meminta ia membuang warisan ayahnya hanya demi ketenangan sesaat.
Ibu muda tadi angkat suara lagi, bergetar. "Chen Rong bilang dia mau jual rute ke kelompok baru. Kelompok yang lebih kejam. Anak saya... kami tak punya tempat lain."
Li Wei menarik napas. Kata-kata yang selama ini ia simpan dalam bahasa Indonesia murni tiba-tiba keluar campur dialek Kanton halus yang ia pelajari diam-diam dari ayahnya dulu. "Ini bukan soal rumah atau sewa," katanya. Suaranya lebih dalam dari biasanya. "Ini soal nama-nama yang ayahku catat dengan darah. Nama kalian semua. Kalau buku itu jatuh ke tangan salah, besok pagi polisi atau preman baru tahu siapa yang pernah diselamatkan tahun sembilan puluhan."
Ruangan hening sesaat. Campuran bahasa itu seperti kunci yang membuka pintu lama. Beberapa warga menegakkan tubuh, mata mereka berubah—bukan lagi ketakutan semata, tapi pengakuan.
Pintu ruang bawah tanah terbuka dengan keras. Chen Rong melangkah masuk, jas hitamnya kontras dengan udara pengap. Di tangannya ada map tipis—salinan parsial buku besar yang dicurinya dari gudang semalam. Senyumnya lebar, tapi matanya dingin.
"Bagus, rapat keluarga besar," katanya santai. "Aku bawa tawaran yang adil. Serahkan buku asli, aku jamin rute pengiriman tetap jalan. Bahkan aku tambah bagian untuk kalian semua. Dunia berubah, Li Wei. Jaringan lama ini sudah karatan."
Chen Rong melempar map itu ke tengah ruangan. Beberapa lembar kertas berhamburan. Li Wei melihat nama-nama familiar—termasuk nama Chen Rong sendiri dengan catatan "hutang belum lunas".
Sebelum Li Wei menjawab, seorang anak laki-laki berusia delapan tahun maju dari belakang ibunya. Kakinya telanjang, bajunya robek di siku. Matanya besar dan basah. "Pak Li... tolong jaga kami." Suaranya kecil tapi jelas. "Ayah saya sakit. Kalau jaringan hilang, kami harus pindah ke luar kota. Ibu bilang di sana tak ada yang kenal kami. Tak ada yang mau bantu orang seperti kami."
Anak itu menatap langsung ke mata Li Wei. Bukan permohonan umum—permohonan pribadi yang menusuk. Li Wei teringat foto dirinya kecil di dokumen gudang semalam. Wajah yang sama polosnya, tapi sudah terikat janji yang tak ia pahami saat itu.
Nenek Mei bergerak pelan mendekati Li Wei. "Dulu suamiku mati karena menolak menyerahkan buku yang sama," katanya pelan, hanya untuk Li Wei, tapi cukup keras untuk yang terdekat mendengar. "Dia bilang, kalau kita serah, komunitas ini jadi budak selamanya. Aku tak mau pengorbanannya sia-sia."
Chen Rong tertawa pendek. "Romantis sekali. Tapi romansa tak bayar listrik atau sekolah anak-anak kalian."
Li Wei merasakan panas naik ke lehernya. Semua mata tertuju padanya. Pilihan ini bukan lagi soal buku—ini soal apakah ia tetap anak kota yang bisa kabur kapan saja, atau benar-benar penerus yang ayahnya catat sejak lahir.
Ia mengeluarkan selembar kertas tebal dari dalam jaketnya—salinan palsu yang ia buat semalam di apartemennya, lengkap dengan kode palsu yang mirip tapi salah. Tangannya tak gemetar saat ia menyulut korek api.
Api kecil menyala terang di tengah ruangan pengap itu. Bau kertas terbakar langsung menyebar. Li Wei memegang kertas itu hingga api hampir membakar jarinya, lalu menjatuhkannya ke ember besi kosong di sudut.
"Ini yang kau mau, Chen Rong?" katanya tegas, suara campuran dialek dan Indonesia masih menggema. "Ambil abunya. Buku asli ada di tempat yang hanya aku tahu. Dan aku tak akan serahkan. Bukan karena aku mau jadi pahlawan. Karena nama-nama di dalamnya termasuk nama ayahku... dan namaku sendiri."
Chen Rong melangkah maju, wajahnya mengeras. Senyumnya hilang total. "Kau baru saja membakar kesempatan terakhir komunitas ini, Li Wei."
Nenek Mei mengangguk pelan di belakang Li Wei. Warga terdiam, sebagian lega, sebagian ketakutan baru. Anak kecil itu mundur ke pelukan ibunya, tapi matanya masih menatap Li Wei dengan percaya.
Li Wei tahu, malam ini ia tak lagi bisa pura-pura asing. Buku asli kini hanya ada di tangannya seorang. Pilihan yang tak bisa ditunda sudah diambil.
Saat rapat bubar dan orang-orang keluar satu per satu, ponsel Li Wei bergetar di saku. Nomor tak dikenal. Ia angkat dengan tangan masih bau asap.
Suara di seberang dingin dan datar. "Li Wei... ayahmu dulu juga menolak bekerja sama dengan kami di koridor pelabuhan. Makanya dia mati. Sekarang giliranmu. Besok malam, di dermaga lama. Sendirian. Atau komunitas ini ikut lenyap bersamamu."
Telepon dimatikan. Li Wei menatap layar yang gelap, jantungnya berdegup keras. Bau asap salinan palsu masih menempel di jemarinya—pengingat bahwa api yang ia nyalakan malam ini baru saja membakar jembatan terakhir menuju kehidupan lamanya.