Novel

Chapter 2: Buku Besar yang Tak Boleh Dibaca

Li Wei membawa buku besar berkode milik ayahnya ke apartemennya di pinggiran Chinatown, berusaha memindai dan memahami isi yang penuh misteri. Kode-kode dalam buku itu mengikat janji dan hutang antar generasi dalam komunitas imigran yang selama ini ia abaikan. Kunjungan Nenek Mei membawa tekanan budaya dan ujian kesiapan Li Wei menghadapi tanggung jawab keluarga. Ancaman tersembunyi datang lewat pengiriman misterius dari Chen Rong, rival lama keluarga yang terus mengincar warisan dan jaringan komunitas. Dalam keputusasaan, Li Wei membakar satu halaman buku besar tersebut, namun penyesalan muncul saat ia menyadari nama ibunya tercatat dalam rahasia yang selama ini ia coba hindari. Beban moral dan identitas yang terpecah memaksa Li Wei menghadapi jaringan rahasia dan hutang keluarga yang tidak bisa ia lari lagi.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Buku Besar yang Tak Boleh Dibaca

Li Wei menutup pintu apartemennya dengan desahan berat, buku besar milik ayahnya yang berat terangkat di tangan. Lampu meja yang redup menerangi kertas-kertas kuning yang penuh dengan barisan kode aneh—huruf, angka, dan simbol yang asing baginya. Dengan jari gemetar, ia mengarahkan ponsel ke satu halaman, mencoba memindai kode itu. Tapi layar hanya menampilkan garis-garis samar, seperti menolak terbaca. Li Wei mengernyit, rasa frustrasi dan takut menjalar ke dadanya. "Ini bukan catatan hutang biasa," gumamnya pelan. Ia mengenali nama-nama yang tertulis: tetangga, teman lama, bahkan nama ibunya. Setiap halaman seolah membentuk jaring tak kasat mata yang mengikat janji perlindungan antar generasi.

Ketukan halus di pintu memecah keheningan, tapi saat Li Wei mengintip dari lubang kunci, lorong itu kosong. Ia kembali duduk, menyentuh halaman-halaman buku besar itu. Ingatannya melayang pada kata-kata Nenek Mei tentang hutang lama yang bukan sekadar soal uang, melainkan tanggung jawab yang melekat pada nama keluarga.

Beberapa saat kemudian, pintu diketuk lagi, kali ini suara yang sudah dikenalnya. Nenek Mei masuk membawa piring berisi bakpao hangat. Matanya tajam menatap Li Wei yang masih memegang buku tua itu. "Kamu baca ini, Wei? Apa kamu paham isi di dalamnya?" suaranya berat, menuntut.

Li Wei menggeleng, jantungnya berdetak cepat. "Aku baru mulai, Nenek. Banyak hal yang aku nggak mengerti."

Nenek Mei duduk di seberangnya, wajahnya serius. "Ini bukan cuma catatan biasa. Buku ini mengikat janji dan hutang antar keluarga kita. Kamu sadar, kan? Ini soal nyawa dan kehormatan."

Li Wei merasakan tekanan yang semakin berat, seolah apartemennya menyempit. "Aku cuma ingin jalan yang mudah, Nenek. Bukan ikut aturan lama yang bikin hidup rumit."

Nenek Mei menatapnya lama, suaranya pelan tapi tegas, "Kalau kamu lari, berarti kamu menolak darah dan akar yang mengalir dalam tubuhmu."

Li Wei menghela napas, beban moral dan budaya mengekang dirinya. Nenek Mei meletakkan piring kue lapis di meja kecil, lalu menatap tajam. "Buku besar itu bukan sekadar catatan hutang. Itu janji—janji yang mengikat setiap keluarga dalam jaringan ini. Hutang, tanggung jawab, dan rahasia yang harus dijaga."

Li Wei memandang halaman-halaman berhuruf Cina kuno yang berkelok-kelok itu, seolah berbisik. Ia merasa semakin terperangkap dalam aturan jaringan yang tak tampak, yang mulai meragukan identitas dirinya sendiri.

Tiba-tiba, ketukan keras menggema di lorong sempit depan pintu. Li Wei membeku, jantungnya berdegup kencang. Sebuah paket besar tanpa alamat pengirim tergeletak di ambang pintu, hanya nama lengkapnya tertulis dengan tulisan tangan rapi namun dingin.

Ia mengangkat paket itu dengan hati-hati. Di dalam kotak kayu kecil, ada kunci tua berkarat, segenggam koin logam kuno berdebu, dan selembar kertas terlipat. Pesan samar tertulis dalam aksara Tionghoa klasik, dengan kode angka tersembunyi di bawahnya—hanya bisa dimengerti oleh mereka yang tahu aturan jaringan rahasia.

"Hutang lama belum lunas," begitu bunyi pesan itu. Nama Chen Rong tersirat di setiap kata, mengintimidasi lewat jarak dan waktu. Li Wei merasakan beban itu melilit lehernya lagi. Chen Rong, rival lama keluarganya, tak pernah berhenti mengincar properti dan jaringan yang diwariskan ayahnya. Pesan ini ancaman terselubung, tanda bahwa Chen Rong masih memegang kendali di balik koridor pengiriman lintas batas yang menjadi denyut hidup komunitas mereka.

Dengan gelisah, Li Wei mencoba menghubungi teman kerjanya di pelabuhan, berharap mendapat dukungan atau petunjuk langkah berikutnya. Namun, saat telepon terangkat, kata-kata sulit keluar. Bagaimana ia bisa menjelaskan situasi rumit ini tanpa mengungkap rahasia keluarga yang selama ini ia sembunyikan?

Malam itu, di balkon apartemennya, Li Wei duduk termenung dengan selembar halaman buku besar di tangan. Dalam keputusasaan, ia merobek halaman itu dan menyalakannya dengan korek api. Api kecil mulai menjilat kertas tipis, asap mengepul membaur dengan dinginnya udara malam.

Tangannya gemetar, bukan hanya karena udara, tapi karena beban yang menekan. Saat halaman mulai terbakar, ia menangkap satu nama yang jelas: nama ibunya.

Jantungnya tersayat, perasaan bersalah menyeruak. Mengapa nama ibunya ada di sini? Apa hutang itu juga melibatkan dirinya? Membakar halaman itu bukan sekadar menghilangkan kertas, tapi menghapus bagian dari identitas keluarga yang selama ini ia coba hindari.

Bayangan wajah Nenek Mei melintas di benaknya. "Jangan pernah anggap remeh beban yang ditinggalkan keluarga," pikir Li Wei. Namun malam ini, rasa takut dan keputusasaan mengalahkan kewarasan. Ia berharap api bisa memadamkan suara-suara masa lalu yang menghantui.

Namun, saat api melahap kertas itu, huruf dan angka yang terbakar membentuk pola aneh, seolah rahasia itu menolak lenyap. Nama ibunya tertulis bersama janji perlindungan yang tak terucapkan, mengikatnya pada jaringan yang tak bisa ia lepaskan.

Li Wei berdiri di balkon, menatap api yang kini telah menjadi simbol beban yang harus ia hadapi. Rahasia yang ia coba sembunyikan justru semakin menyala, memaksa dirinya untuk menerima takdir yang selama ini ia hindari.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced