The Clock Narrows
Pukul 15.02, hanya dua puluh lima menit setelah rekaman suara Mira berhenti, udara di ruang arsip rumah sakit tua terasa lebih berat daripada lemari besi yang mengelilingi mereka. Sari berdiri tegak di depan deretan lemari tersegel, matanya menyala seperti bara. “Kalian berdua cuma penghalang!” suaranya tajam, menusuk. “Bersekongkol untuk menunda warisan yang sudah seharusnya menjadi milik saya!”
Raka merasakan tuduhan itu seperti tamparan. Jantungnya berdegup kencang, tapi ia tidak mundur. Di sampingnya, Pak Hadi bernapas berat, tangannya sudah menyentuh panel rahasia di balik lemari terbesar. “Ini bukan soal bersekongkol,” gumam Pak Hadi sambil memutar baut tersembunyi. Derit pelan terdengar ketika pintu besi terbuka, mengeluarkan bau kertas tua dan debu.
Di dalamnya tersimpan berkas-berkas yang tak pernah dilihat siapa pun. Raka meraih satu dokumen tebal bertuliskan “Aturan Perpindahan Warisan Keluarga”. Matanya menyusuri baris-baris huruf kecil itu dengan cepat. Kalimat yang paling mencolok membuat darahnya dingin: deklarasi hilangnya Mira harus diajukan dalam waktu tepat lima belas hari sejak pukul 14.37 hari ini. Jika melewati batas itu, seluruh aset otomatis beralih ke pihak yang sudah siap—Sari dan sekutunya.
“Lima belas hari,” bisik Raka. “Dan jam sudah berjalan.”
Sari melangkah lebih dekat, suaranya turun menjadi ancaman pelan. “Kalian pikir aku tidak tahu kalian menyembunyikan sesuatu? Rekaman itu... saya sudah mendengar bisik-bisiknya. Jangan coba-coba menghalangi saya, Raka. Kau bahkan bukan pewaris yang seharusnya.”
Pak Hadi menutup lemari dengan cepat, tapi terlambat. Sari sudah melihat cukup untuk menyadari mereka baru saja membuka rahasia yang selama ini ia buru. Ia tersenyum tipis, penuh perhitungan, lalu berbalik dan meninggalkan ruangan tanpa kata lagi. Langkahnya meninggalkan gema yang terasa seperti hitungan mundur tambahan.
Raka menarik napas dalam. “Kita tidak punya waktu lagi untuk ragu.” Ia mengeluarkan ponsel tua dari saku. Jari-jarinya masih gemetar ketika menekan putar ulang. Suara Mira terdengar lagi, rendah dan mendesak: “Buku besar hitam... tersembunyi di sayap timur estate, di balik panel kayu dengan kode bank lama. Jangan percaya siapa pun, terutama Sari. Dia sudah curiga. Jejak bank yang saya catat di sana akan membuktikan semuanya... tapi cepat, Raka. Sebelum mereka mengunci segalanya.”
Pak Hadi mendekat, wajahnya pucat. “Rekaman ini bukan hanya petunjuk. Ini bom waktu. Kalau Sari tahu kita punya ini, dia bisa menuduh kita mencuri bukti. Dan kode bank lama... itu berarti kita harus masuk ke ruang tersembunyi malam ini juga.”
Raka mematikan rekaman. Suara Mira masih bergema di kepalanya, membuat beban di dadanya semakin berat. Setiap kata yang ditinggalkan kakaknya itu kini terasa seperti utang yang harus dibayar dengan nyawa atau reputasi. “Kita harus ke estate sekarang. Tapi Sari pasti sudah memasang mata di mana-mana.”
Mereka keluar dari arsip dengan cepat, menyusuri koridor rumah sakit tua yang temaram. Pukul 16.02 ketika mobil tua Pak Hadi berhenti di gerbang belakang estate keluarga. Langit sore mulai menggelap, bayang-bayang pohon pinus panjang menutupi lorong masuk sayap timur. Raka merasakan tatapan tak kasat mata—pengawasan Sari yang sudah mulai bekerja.
“Kita masuk lewat lorong servis,” bisik Pak Hadi sambil mematikan mesin. “Jangan nyalakan lampu senter sampai benar-benar di dalam.”
Mereka bergerak pelan, langkah demi langkah di antara dinding kayu tua yang berderit pelan. Setiap suara kecil terasa seperti jeritan. Raka menyentuh saku, merasakan ponsel tua yang kini seperti batu panas. Rekaman itu memberi arah, tapi juga membuat mereka target. Di ujung lorong, sebuah panel kayu berukir halus muncul—pola yang persis seperti yang disebut Mira.
“Ini dia,” kata Raka pelan. Ia menekan ukiran tertentu sesuai petunjuk rekaman. Panel bergeser dengan suara pelan, membuka celah sempit menuju ruang tersembunyi. Bau kertas lama dan tinta langsung menyergap. Pak Hadi menyusul masuk, tangannya memegang kunci kecil yang ia ambil dari lemari arsip tadi.
Di dalam ruangan kecil itu, tumpukan dokumen tersegel menumpuk rapi. Raka langsung menuju bundel tebal bertuliskan “Buku Besar Hitam—Catatan Transaksi Keluarga”. Segelnya masih utuh. Dengan tangan gemetar ia membukanya. Baris-baris angka dan nama langsung menyita perhatiannya: transfer besar ke rekening Sari yang disembunyikan di balik perusahaan bayangan, tanggal-tanggal yang cocok dengan hilangnya Mira, dan catatan tulisan tangan Mira sendiri yang menyatakan “Sari yang mengatur semuanya. Aku harus hilang sebelum mereka menghabisiku.”
“Ini bukti,” bisik Raka, suaranya parau. “Sari bukan hanya mengincar warisan. Dia yang membuat Mira hilang.”
Pak Hadi membaca di sampingnya, wajahnya semakin kerut. “Tapi lihat tanggal terakhir. Catatan ini baru dua hari sebelum Mira menghilang. Artinya... Sari sudah selangkah di depan kita. Kalau kita bawa ini keluar sekarang, kita bisa dituduh memalsukan bukti. Dan deklarasi hilangnya Mira tinggal empat belas hari lagi mulai besok pagi.”
Raka menutup buku besar itu perlahan. Pengungkapan ini seharusnya memberi harapan, tapi justru membuat perutnya mual. Setiap halaman yang ia baca memperjelas satu hal: waktu mereka bukan hanya menipis—ia sedang dipercepat. Sari tidak akan tinggal diam. Pengawasannya akan semakin ketat, dan sekarang Raka membawa bukti yang bisa menyelamatkan sekaligus menghancurkan dirinya.
Tiba-tiba suara langkah samar terdengar dari luar ruangan tersembunyi. Pak Hadi langsung mematikan senter kecilnya. Mereka saling pandang dalam gelap. Raka merasakan keringat dingin menetes di punggungnya. Bukti ini baru saja mengubah segalanya—Sari bukan lagi sekadar kerabat ambisius, tapi dalang yang siap menghabisi siapa pun yang menghalangi.
Dan sekarang, dengan buku besar hitam di tangan, posisi Raka jauh lebih buruk daripada sebelumnya. Setiap detik yang tersisa bukan lagi perlombaan mencari kebenaran, melainkan perlombaan melawan orang yang sudah siap membungkamnya sebelum batas waktu habis.