Novel

Chapter 1: The First Lead

Raka memasuki arsip rumah sakit tua di bawah tekanan waktu lima belas hari menjelang deklarasi hilangnya Mira. Ia menerima petunjuk berupa rekaman suara Mira yang mengungkap keberadaan buku besar hitam di estate dan tuduhan langsung terhadap Sari. Sari muncul secara tak terduga, meningkatkan kecurigaan dan risiko. Petunjuk pertama membawa konsekuensi langsung: ancaman keselamatan dan kehilangan kepercayaan.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

The First Lead

Raka mendorong pintu ruang arsip rumah sakit tua dengan bahu, napasnya tersengal. Air hujan menetes dari jaketnya ke lantai semen yang retak. Jam dinding berderit pelan: 14.37. Lima belas hari lagi sebelum pengadilan menyatakan Mira hilang secara resmi. Setelah itu, seluruh warisan keluarga Lane jatuh ke tangan Sari dan sekutunya—orang-orang yang tak boleh menyentuhnya.

"Pak Hadi," panggilnya rendah, mendesak.

Pengurus arsip paruh baya itu menoleh dari balik meja kayu usang. Kerut di dahinya lebih dalam hari ini. "Raka, kau datang lagi. Aku sudah bilang, lemari-lemari ini disegel resmi. Membukanya berarti aku kehilangan pekerjaan, mungkin lebih."

Raka meletakkan amplop cokelat kusam di meja. Tangan basahnya meninggalkan bekas air di kertas. "Mira hilang tiga hari lalu. Dia meninggalkan pesan ini di sini sebelum menghilang. Kalau kita tidak menemukan buku besar hitam itu sekarang, lima belas hari lagi semuanya berakhir."

Pak Hadi mengusap wajahnya. Jari telunjuknya berhenti di bekas luka kecil di pipi kiri—bekas 'kecelakaan' keluarga yang tak pernah dibahas terang-terangan. "Risikonya bukan cuma pekerjaan, Raka. Sari sudah mulai bertanya-tanya siapa yang mengganggu arsip."

"Dia saudara sepupu Mira. Kalau dia yang menguasai warisan, rahasia yang Mira coba ungkap akan terkubur selamanya," balas Raka. Matanya tak lepas dari deretan lemari besi bersegel merah yang berdiri seperti penjaga bisu.

Pak Hadi diam sejenak, lalu mengeluarkan kunci kecil dari laci terkunci. "Hanya kali ini. Ingat: setiap petunjuk yang kau ambil akan memakan waktu, kepercayaan, atau nyawa seseorang."

Derit kunci memecah keheningan. Lemari paling ujung terbuka berat. Debu mengepul. Di antara map-map kuning tua, tergeletak sebuah ponsel lama dengan layar retak.

Raka mengambilnya. Jantungnya berdegup keras. Ia menekan tombol play.

Suara Mira terdengar jelas, napasnya cepat seperti sedang berlari:

"Raka, kalau kau mendengar ini, aku sudah tak bisa kembali. Buku besar hitam ada di balik dinding estate, ruang lama ayah. Kode di dalamnya membuktikan Sari dan orang-orangnya yang mengatur hilangnya aku. Jangan percaya siapa pun di keluarga. Waktu kita tinggal dua minggu. Setelah itu, mereka tak tersentuh lagi. Temukan buku itu sebelum mereka menemukanmu."

Rekaman berhenti dengan klik tajam.

Raka merasakan dingin menjalar di tulang punggung. Ini bukan sekadar pesan. Ini pengakuan whistleblower yang memaksa Mira menghilang. Dan kini pesan itu ada di tangannya.

Pak Hadi menutup lemari dengan cepat, tangannya gemetar ringan. "Sekarang kau tahu kenapa aku takut. Mira datang malam itu, wajahnya pucat sekali. Dia bilang ada yang mengikutinya."

Sebelum Raka menjawab, pintu ruang arsip berderit pelan. Langkah sepatu hak tinggi terdengar di lorong basah.

Sari melangkah masuk, rambutnya basah oleh hujan, senyumnya tipis dan dingin. "Raka. Pak Hadi. Sedang apa kalian berdua di sini sore-sore begini?"

Raka menyembunyikan ponsel ke saku jaket dengan gerakan halus. "Hanya mengecek dokumen kesehatan lama."

Sari mendekat. Matanya menyipit ke arah lemari yang baru ditutup. "Dokumen kesehatan? Atau dokumen yang seharusnya tetap terkubur? Pengadilan butuh bukti Mira benar-benar hilang. Kalau ada yang mengganggu proses itu... bisa dianggap menghalangi hukum."

Pak Hadi buru-buru angkat bicara. "Non Sari, ini prosedur biasa."

"Biasa?" Sari tertawa kecil, tapi matanya tak ikut. "Hati-hati, Raka. Kau hanya pewaris cadangan. Jangan sampai kau ikut hilang seperti Mira. Waktu semakin sempit. Lima belas hari lagi, semuanya resmi menjadi milik yang berhak."

Ia berbalik dan pergi. Langkahnya tegas meninggalkan aroma parfum mahal yang kontras dengan bau debu dan kertas tua.

Begitu pintu tertutup, Pak Hadi menghela napas panjang. "Dia sudah curiga. Petunjuk ini sekarang bukan hanya milikmu, Raka. Ini juga membahayakan aku."

Raka mengeluarkan ponsel lagi, memutar ulang bagian terakhir rekaman. "Buku besar hitam... di balik dinding estate." Ia menatap Pak Hadi. "Kau tahu letak persisnya?"

Pak Hadi menggeleng pelan. "Aku hanya tahu ada ruang tersembunyi di sayap timur. Tapi membukanya berarti memecah dinding rumah yang dijaga ketat. Dan Sari pasti akan tahu."

Raka merasakan beban baru menekan dada. Petunjuk pertama yang seharusnya memberi arah justru memperjelas satu hal: setiap langkah maju akan mempercepat waktu, menipiskan kepercayaan, dan mendekatkan bahaya yang lebih nyata.

Ia menyimpan ponsel ke saku dalam jaketnya, merasakan bobotnya seperti batu dingin.

"Ini baru permulaan," gumamnya pelan.

Di luar jendela, hujan mulai reda. Tapi di dada Raka, hitungan mundur sudah berdenyut lebih kencang. Petunjuk pertama membawa Raka masuk ke dalam jaringan rahasia keluarga yang penuh bahaya—dan setiap langkah selanjutnya akan mengungkap harga yang jauh lebih mahal daripada yang ia bayangkan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced