Siaran Langsung yang Membawa Petaka
Lampu merah di atas kamera utama menyala, dan Aris tahu ini bukan perayaan warisan—ini adalah eksekusi citra dengan dekorasi mahal.
Studio siaran langsung itu dirancang untuk menipu mata: sofa krem, bunga putih di meja kaca, dan layar LED yang memutar logo yayasan dengan ritme yang menenangkan. Di tengah frame, Om Bram duduk dengan jas abu-abu muda, tangan terlipat tenang di atas paha. Wajahnya licin, seperti seseorang yang sudah menyiapkan kalimat belasungkawa sebelum ada korban. Di sebelahnya, Clara duduk tegak. Rambutnya disisir rapi ke belakang, blus putihnya sederhana, namun matanya menatap kamera dengan intensitas yang membuat Aris merasa ada sesuatu yang retak di balik ketenangan itu.
Aris duduk di ujung sofa, separuh keluar dari sorot utama. Di keluarga ini, posisinya selalu begitu: hadir agar tidak bisa dituduh absen, namun tidak cukup penting untuk dianggap pusat. Asisten sutradara memberi isyarat kecil dari balik monitor. “Jangan bergerak, Mas Aris. Kamera dua sedang mengambil keluarga inti.”
Keluarga inti.
Kata itu terasa seperti tamparan. Di monitor kecil, teks berita yang dipasang tim produksi melintas pelan di bawah wajah-wajah yang dibedaki: 12 hari menuju deklarasi hukum hilangnya Clara. Aris membaca ulang angka itu. Notaris keluarga sudah mengirim peringatan sejak pagi. Jika dalam dua belas hari Clara tidak hadir atau tidak ada deklarasi resmi yang diajukan, kendali warisan akan bergeser ke tangan yang paling siap. Dan di ruang ini, semua orang tahu siapa yang paling siap.
Om Bram.
“Hari ini kita merayakan kesinambungan,” suara pembawa acara terdengar hangat, terlalu manis untuk kenyataan yang membusuk. “Keluarga yang kuat, yayasan yang kuat, dan masa depan yang aman.”
Clara menoleh sekilas ke arah Aris. Bukan tatapan panik. Lebih buruk: tatapan yang tampak biasa, namun ada beban kecil di sana, seperti seseorang yang menitipkan rahasia di saku orang lain tanpa menyentuh tangannya. Lalu ia kembali menghadap kamera, wajahnya kembali menjadi topeng yang sempurna.
Lalu, jeda iklan datang seperti tirai yang ditarik paksa.
Lampu studio meredup. Host bangkit, dan kru mulai bergerak cepat. Tiba-tiba, studio yang tadi penuh suara terasa seperti ruang tunggu rumah sakit: bersih, berkilat, dan menyimpan kepanikan di balik dinding.
Aris menoleh ke arah Clara.
Kursinya kosong.
Tidak ada suara, tidak ada gerakan dramatis. Clara hanya… lenyap. Blus putihnya hilang dari frame, kursinya setengah terdorong, dan gelas air di meja samping masih bergetar pelan. Monitor utama menunjukkan sudut yang sama: sofa keluarga, Om Bram yang masih duduk tegak, dan ruang kosong di sebelahnya.
“Clara?” suara host naik, kecil dan tertahan. “Kita—eh, jeda sebentar.”
Sutradara studio membentak melalui headset. “Cek kamera tiga! Siapa yang bawa dia keluar?”
Aris sudah berdiri. Kursi skrip di bawahnya berdecit keras. “Aku cari Clara,” katanya, suaranya dingin.
Om Bram menoleh lambat, memberi senyum yang sangat pas untuk kamera. “Duduk, Aris. Jangan bikin ramai.”
“Clara ada di mana?”
“Sedang istirahat.”
“Itu bukan jawaban.”
Om Bram menyandarkan punggung. “Kau datang ke sini untuk acara keluarga. Bukan untuk memeriksa panik orang.”
Aris bergerak melewati ujung sofa, namun seorang kru menahan lengannya. “Mas, nanti dulu. Semua lagi chaos. Jangan lewat jalur kabel.”
Aris melepaskan lengannya, lalu melihat pengacara keluarga muncul dari sisi kanan studio, map kulit di tangan. Malam ini, pria itu tampak lebih tegang dari biasanya. “Pak Aris,” katanya, mendekat tanpa menatap kamera. “Jangan memperburuk situasi. Kita belum tahu apa yang terjadi.”
“Kalau begitu cari dia.”
“Sedang dilakukan.”
Aris menatap kursi kosong Clara, lalu kembali ke pengacara. “Kalau sedang dilakukan, kenapa tim produksi sibuk menutup segmen, bukan mencari orangnya?”
Pengacara itu menurunkan suara. “Karena kalau ini meledak di siaran, yang hancur bukan cuma nama Clara. Status warisan juga bisa kacau. Tahu apa artinya itu?”
Aris tahu. Itu artinya semua orang yang menunggu Clara jatuh bisa menyambar aset keluarga sebelum ada yang sempat bertanya kenapa dia menghilang. Di ujung studio, Aris melihat sesuatu yang tidak cocok: selembar kertas putih terselip di bawah meja kecil dekat posisi Clara tadi. Ia menyelipkan tubuh melewati kerumunan kru, pura-pura mengecek posisi kabel, lalu menyambar kertas itu dan menyembunyikannya di telapak tangan.
Lorong servis di belakang studio dingin dan berbau kabel panas. Aris membuka lipatan kertas itu. Tulisan tangan Clara.
Jangan percaya yang mereka tunjukkan di kamera. Kalau aku hilang, cari buku besar. Bukan yang di lemari depan. Yang disembunyikan di balik dinding estate.
Jangan beri Om Bram waktu sampai dua belas hari habis.
Aris menatap kalimat itu. Dua belas hari. Clara tahu tentang tenggat itu. Ini bukan kekacauan acak; ini keputusan.
Om Bram muncul di ujung lorong, satu tangan di saku, memegang ponsel. Pengacara keluarga berdiri di belakangnya. Om Bram menatap wajah Aris, lalu catatan di tangan Aris, lalu kembali ke matanya.
“Kau terlalu cepat bergerak,” kata Om Bram. “Orang yang selalu dipinggirkan sering terlalu bersemangat saat melihat sedikit perhatian.”
“Clara hilang,” kata Aris. “Dan kamu masih sempat bicara soal perhatian?”
Om Bram mendekat. “Dengarkan baik-baik. Kamu bisa ikut campur, lalu keluarga ini akan mencatat bahwa kaulah yang membuat siaran kacau. Atau kamu bisa diam, duduk manis, dan biarkan kami mengurus semuanya secara layak.”
Aris tidak menjawab. Ia berbalik, melangkah menuju area belakang studio yang lebih gelap, mengikuti ingatan samar bahwa Clara pernah menyebut ruang kerja estate sebagai tempat yang “tidak pernah benar-benar bersih.” Di dinding, ia menemukan papan denah utilitas. Ia menarik ujung map arsip yang menempel di sana.
Di bawah lapisan denah yang tampak baru, ada garis-garis yang tidak cocok. Ada bagian dinding yang seharusnya penuh, namun di sini digambar kosong. Ada satu jalur ke ruang kerja Clara yang dipindah beberapa senti—cukup sedikit untuk luput dari mata orang yang tidak tahu apa yang dicari, namun cukup banyak untuk menyesatkan orang yang datang terlambat.
Denah itu palsu.
Aris merasa perutnya mengencang. Seseorang di dalam estate sudah mengubah peta untuk menyembunyikan sesuatu. Dan kalau Clara meninggalkan petunjuk yang mengarah ke dinding estate, lalu peta aksesnya dipalsukan, berarti ada orang dalam yang tidak hanya tahu rahasianya—mereka ikut menjual jalan masuknya.
Di belakangnya, langkah sepatu kulit terdengar di lantai marmer. Aris tidak menoleh. Ia menggenggam catatan Clara, sadar bahwa ia baru saja masuk ke masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan diam. Di seberang lorong, lampu studio kembali menyala, memaksa senyum keluarga palsu itu hidup lagi di depan kamera. Dan di tangan Aris, pesan Clara berubah dari ketakutan menjadi petunjuk pertama yang benar-benar bisa ditindaklanjuti.