Bayang-bayang Kreditur yang Terluka
Aroma rempah di dapur Wiranata yang biasanya membangkitkan nostalgia, malam ini terasa menyesakkan. Di ruang makan utama, Tuan Rafi Kencana duduk dengan punggung tegak, kakinya bersilang—sebuah gestur dominasi yang sengaja dipamerkan. Di hadapannya, Hendra Wiranata tampak seperti pria yang baru saja kehilangan dunianya, sementara Maya berdiri di sampingnya, jemarinya memutih karena meremas ujung taplak meja.
"Waktu kalian habis, Hendra," suara Rafi memecah kesunyian, dingin dan presisi. "Sabotase protein kacang itu mungkin menghentikan kontrak sementara, tapi utang yang jatuh tempo malam ini tidak bisa dinegosiasikan dengan hasil laboratorium. Restoran ini akan berpindah tangan sebelum fajar."
Maya menoleh ke arah Arga yang berdiri di sudut ruangan, bayang-bayangnya memanjang di lantai kayu. "Arga, lakukan sesuatu! Jangan hanya berdiri di sana seperti pajangan. Pamanmu butuh jalan keluar!"
Arga melangkah maju, namun ia tidak menatap Hendra. Ia menarik kursi tepat di depan Rafi, memutus garis pandang antara kreditur itu dan Hendra. "Saya tidak akan menjadi tameng untuk kesalahan manajemen yang kalian buat sendiri," suara Arga tenang, namun memiliki bobot yang membuat dua pria berjas gelap di belakang Rafi menegakkan posisi.
"Hak suara penuh atas keputusan finansial malam ini," lanjut Arga. "Atau silakan lanjutkan proses sita tersebut. Saya tidak keberatan melihat bagaimana restoran ini hancur di tangan Anda, Tuan Rafi."
Hendra tersentak, wajahnya merah padam. "Kau? Memberi perintah di rumah makan Wiranata? Jangan bermimpi!"
"Paman, lihat sekeliling!" potong Maya, suaranya kini memohon, menyadari bahwa satu-satunya orang yang bisa membaca krisis dengan benar hanyalah pria yang selama ini mereka remehkan. Ia mendekati Arga, berbisik dengan suara rendah agar tidak terdengar staf dapur, "Tolong, Arga. Aku akan memberikan akses dokumen apa pun yang kau butuhkan. Hanya selamatkan restoran ini."
Arga menerima map utang dari tangan Maya. Di depan meja makan, ia mulai membandingkan nomor, tanggal, dan pola bunga yang tertulis di sana dengan catatan distribusi yang telah ia kumpulkan. Ia tidak mencari kemenangan lewat teriakan. Ia mencari kelemahan dalam presisi angka.
"Permainan yang cukup menghibur, Arga," Rafi memulai, suaranya mencoba menutupi retakan pada topengnya. "Namun, sebuah insiden keracunan tidak akan bisa membatalkan kontrak yang sudah ditandatangani. Kamu hanyalah seorang menantu yang kebetulan mengerti sedikit tentang medis. Jangan merasa dirimu bisa memegang kendali atas aset keluarga Wiranata."
Arga tidak membalas dengan kemarahan. Ia membuka map tersebut dengan gerakan yang presisi, seolah sedang membedah jaringan lunak di ruang operasi. Ia menarik selembar kertas yang berisi catatan transaksi keuangan yang rumit.
"Saya tidak sedang bermain, Tuan Rafi," Arga berkata, suaranya tajam. "Saya sedang melakukan audit klinis terhadap bisnis Anda. Mari kita lihat nomor dokumen ini: RK-992-B. Tanggal transaksinya tepat satu hari sebelum Anda memberikan pinjaman lunak kepada keluarga Wiranata. Pola bunga yang Anda tetapkan melanggar batas hukum perbankan, dan lebih jauh lagi, jalur pembayaran ini terhubung langsung ke perusahaan cangkang yang sedang diselidiki terkait kasus pencucian uang di sektor logistik pangan."
Rafi terdiam. Senyum tipisnya mulai memudar, digantikan oleh tatapan yang menyimpan ancaman. Ia tidak menyangka Arga memiliki akses sedalam itu.
"Jika bukti ini sampai ke meja penyidik malam ini," lanjut Arga sambil menatap mata Rafi, "bukan hanya kontrak ini yang batal, tapi seluruh portofolio bisnis Anda akan diaudit ulang. Jadi, apakah kita akan melanjutkan negosiasi ini dengan cara yang masuk akal, atau Anda ingin saya menelpon kolega saya di kepolisian sekarang juga?"
Rafi Kencana tersenyum meremehkan, berusaha menjaga wibawanya, tidak tahu bahwa Arga telah memegang bukti utang ilegal yang siap menghancurkan seluruh imperiumnya.