The Public Misread
Dua hari setelah kontrak pertunangan palsu itu mereka tandatangani, ponsel Nadya bergetar tanpa henti. Di dapur apartemennya yang sederhana, ia berdiri membeku, mata terpaku pada deretan pesan masuk yang terus mengalir. Komentar-komentar tajam dan ancaman berseliweran di media sosial, menuduhnya sebagai "wanita licik" dan "pembohong yang memanfaatkan keluarga kaya". Di kamar sebelah, suara Kirana yang polos memecah kesunyian. "Bu, kenapa ibu kelihatan sedih? Apa ini tentang Om Raka?" Nadya menelan ludah, berusaha menahan panik yang menggerogoti hatinya. "Ini tidak boleh sampai menyentuh Kirana," gumamnya pelan, menyadari bahwa rahasia mereka kini menjadi sorotan yang bisa mengancam masa depan anaknya.
Dengan tangan gemetar, Nadya membalas beberapa komentar dengan kalimat singkat dan tegas, lalu memutuskan untuk menghapus akun media sosialnya sementara. Kirana masuk ke dapur, menatap ibu yang biasanya tegar itu dengan mata besar penuh tanya. "Ibu, kenapa semua orang marah?" Nadya memaksa senyum dan menundukkan kepala agar tak terlihat gentar. "Kirana, ibu kuat. Kita hadapi ini bersama." Namun di dalam, kegelisahan menggerogoti, menyadarkan bahwa pertunangan palsu yang mereka buat sebagai perlindungan kini berubah menjadi sorotan publik yang mengancam.
Beberapa hari kemudian, Nadya berdiri kaku di sudut ruang konferensi hotel mewah di pusat kota. Tatapan dari para tamu undangan dan kilatan kamera media yang terus mengarah pada dirinya dan Raka, pria yang kini harus ia panggil tunangan, menciptakan tekanan yang jauh melebihi kontrak yang mereka tandatangani. Raka mengikuti langkah Nadya dengan tenang, memancarkan ketegasan yang berlawanan dengan kekacauan di kepala wanita itu.
"Kita harus tampil seolah semua ini nyata," bisik Raka dengan suara tegas saat mereka melangkah memasuki kerumunan. Nadya hanya mengangguk, meski ketakutan akan pengungkapan masa lalu dan ancaman pada Kirana terus menghantui pikirannya.
Saat mereka tiba di tengah acara, seorang wartawan lama yang pernah mengenal Nadya menyambut dengan senyum sinis. "Nadya, ini kejutan besar, ya? Dari ibu tunggal menjadi tunangan pria dari keluarga besar Raka. Apa ini benar? Atau hanya sandiwara?" Suara itu menggema, menarik perhatian ratusan pasang mata.
Jantung Nadya melonjak. Sebelum ia sempat menjawab, Raka mengangkat tangan melindungi Nadya, suaranya menggelegar, "Ini bukan sandiwara. Saya bertanggung jawab atas pilihan ini dan dia tidak sendiri." Tatapan tajam Raka membungkam semua bisik-bisik, memberi sinyal komitmen yang tak terduga pada semua yang hadir.
Namun tekanan tak berhenti di situ. Malamnya, Kirana mengetuk pintu kamar Nadya dengan mata sembab, menggenggam boneka kecil kesayangannya. "Bu, aku nggak ngerti kenapa semuanya jadi begini," suaranya lirih, mengungkapkan ketakutan yang mulai tumbuh.
Nadya merangkulnya lembut, mencoba menahan badai yang makin mendekat. "Ibu juga nggak mudah, Nak. Tapi kita harus kuat." Di balik pelukan itu, Nadya tahu ketegangan yang mereka hadapi jauh lebih rumit dan berbahaya.
Keesokan harinya di kantor hukum, Hendra menatap Nadya dengan serius. "Situasi semakin rumit. Tekanan dari keluarga Raka bukan hanya soal reputasi. Ada risiko hukum yang bisa menjebak kalian, terutama Kirana." Nadya mengangguk, wajahnya yang biasanya dingin kini retak oleh ketakutan nyata. "Apa kita benar-benar tak punya pilihan lain? Aku hanya ingin memastikan keselamatan Kirana." Hendra menatapnya dalam-dalam, suaranya berat, "Kontrak ini bisa jadi tameng, tapi juga pedang bermata dua. Jika ada yang memanfaatkan celah, bukan hanya reputasi yang hancur, tapi hak asuh Kirana bisa dipertaruhkan."
Sore itu, di ruang pertemuan kantor hukum yang dingin, Nadya masih merasakan gemetar saat menatap dokumen yang baru mereka tandatangani. Hendra berdiri di sampingnya, wajahnya datar namun matanya menyiratkan keprihatinan.
"Kontrak ini bukan sekadar formalitas," ujar Hendra berat. "Klausul warisan di dalamnya bisa menjadi bumerang jika satu pihak mundur."
Bayangan masa lalu yang selama ini Nadya kubur mulai merayap kembali. Kirana tak tahu apa-apa, tapi ancaman itu nyata. Nadya menggenggam erat tasnya, satu-satunya pelindung yang tersisa.
Tiba-tiba pintu terbuka. Raka masuk dengan langkah pasti, wajahnya menahan gelombang perasaan sulit.
"Aku sudah memikirkan ini matang-matang," katanya pada Nadya dan Hendra. "Jika pertunangan ini harus jadi tameng kalian, aku siap menanggung risikonya."
Hendra menatap tajam, "Risiko apa yang kau maksud?"
Raka mengeluarkan amplop berisi dokumen dan sebuah rekaman digital. "Ini bukti lama yang bisa menutupi jejak masa lalu Nadya. Tapi jika tersebar, reputasi keluarga kita bisa hancur. Aku tidak peduli. Perlindungan untuk Nadya dan Kirana adalah yang utama."
Nadya terkejut sekaligus lega. Tindakan Raka bukan hanya membungkam keraguan publik tapi juga mengubah permainan mereka. Pertunangan palsu yang kini menjadi sorotan publik bukan sekadar sandiwara lagi; ini adalah medan pertempuran yang menguji batas perlindungan, kepercayaan, dan pengorbanan.
Bab ini berakhir dengan rasa ketegangan yang mencekam: perjuangan Nadya menjaga rahasia dan melindungi Kirana semakin berat, sementara Raka menunjukkan sisi protektif yang membuka babak baru penuh risiko dan harapan.